Saturday, 30 March 2013

Jokowi for Presiden 2014 atau 2019 ?

Maraknya lembaga survey capres 2014 yang baru-baru ini diadakan oleh para lembaga survey menyatakan bahwa sosok Jokowi (Joko Widodo) sebagai kandidat dengan perolehan tertinggi sebagai capres paling potensial 2014 mendatang. Tidak tanggung-tanggung, 5 lembaga survey mulai dari Pusat Data Bersatu (PDB), Lembaga Survey Jakarta (LSJ), Metro TV, Lembaga Survey Indonesia (LSI) dan yang terakhir lembaga survey PRC (Public Research Consulting) menyatakan bahwa Jokowi adalah figur Capres potensial yang memperoleh rating tertinggi dari semua calon. Walaupun LSI hanya mengusung nama Jokowi hanya ditempatkan sebagai Cawapres. 



Kita semua sadar akan ketokohan Jokowi, mantan walikota Solo yang telah menghipnotis rakyat indonesia bahkan dunia dengan gebrakannya yang keluar dari kebiasaan para pemimpin di negeri ini, yang mana telah berhasil menerapkan system ekonomi kerakyatan dalam kepemimpinannya. Dibuktikan dengan penataan PKL tanpa adanya konflik dan fokus membangun pusat-pusat perekonomian rakyat lewat pembangunan pasar-pasar tradisionalnya di Solo, yang juga disertai dengan pembangunan dibidang budaya lokal, sehingga duniapun menobatkan Solo yang selama ini kita anggap remeh, tapi sekarang telah menjadi Kota Budaya bertaraf Internasional.

Lima bulan sudah berlalu Jokowi memimpin Jakarta sebagai Ibukota Negara yang sarat dengan berbagai permasalahannya. mulai dari macet, banjir, lingkungan kumuh, carut marut tata kota yang telah diperjual belikan pihak penguasa, sampai pada buruknya sistem birokrasi yang sangat lekat dengan berbagai kepentingan. Dimulai dari hari pertama Jokowi memimpin, langsung pasang badan dan action di lapangan untuk memetakan masalah. Terjun langsung ke sumber-sumber masalah tanpa adanya pengawalan khusus dari voorijder yang selama ini selalu kita lihat saat gubernur turun ke lapangan, tapi sekarang mereka sudah tidak lagi tampak mengawal Jokowi yang setiap hari turun ke lapangan atau lebih kita kenal dengan istilah "Blusukan".

Media pun tak pernah lelah untuk memburu & meliput Jokowi sebagai sumber berita yang paling "seksi" bagi masyarakat karena mungkin selama ini tidak pernah melihat gebrakan dan model kerja pemimpin-pemimpin sebelumnya dengan cara yang benar-benar tampak lain dimata mereka.

Kinerja Jokowi yang tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja, membuat rakyat semakin yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan perubahannya. Walaupun kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan waktu puluhan tahun (jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah sangat bisa kita rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi orang-orang yang sering melakukan "permainan" dengan memanfaatkan kekuasaan, seperti Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga fokus penuh dalam mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan ratusan bus gandeng trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga diikuti dengan pengentasan masalah banjir secara bertahap,  mulai dari normalisasi & pengerukan sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking Penjaringan, Sungai Ciliwung, Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa dikerjakan dengan hasil yang fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama puluhan tahun relokasi lahan yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi berhasil merelokasi warga bantaran sungai dan membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual belikan rusun dengan harga yang mahal.

Banyaknya hasil kerja yang telah disuguhkan kepada masyarakat, membuat masyarakat pun yakin akan kemampuan / kapabilitas Jokowi untuk memimpin dengan skala permasalahan yang lebih besar. 

Karena itu tidaklah mengherankan kalau sekarang rakyat menginginkan Jokowi maju di pilpres 2014 mendatang, mengingat masalah-masalah Jakarta sudah sangat jelas arah & hasilnya. Perubahan itu sangat jelas walaupun penyelesaian / finishnya adalah jangka panjang. Tapi bukti itu sudah lebih dari cukup dimata rakyat yang rindu akan sosok kepemimpinan yang merakyat & benar-benar untuk rakyat. Rakyat menginginkan sosok pemimpin yang mampu melepaskan diri dari lingkaran kepentingan parpol, dan itu bisa mereka lihat dari sosok Jokowi, yang tetap menempatkan orang-orang lama dalam dinas pemerintahannya, dan berani menolak usulan nama-nama dari parpol pengusungnya untuk dijadikan kepala dinas.

Nama dan popularitas Jokowi kian melambung tak terbendung menjadi calon presiden paling potensial 2014 mendatang. Hal ini cukup membuat panik para lawan politik tak terkecuali partai pendukung Jokowi sendiri yang sarat dengan system politik dynasti yang tentunya keadaan ini juga berimplikasi negatif bagi pimpinan partai (Megawati) yang ternyata elektabilitasnya jauh berada dibawah Jokowi. Rakyat tidak lagi perduli dari partai apa dan diusung oleh siapa saat melihat Jokowi. mereka telah jauh tenggelam dalam kharisma Jokowi yang benar-benar merakyat.

Tahun ini adalah tahun yang panas bagi partai politik menjelang 2014 nanti. Semua parpol pun akan melakukan berbagai manuver untuk memenangkan pemilu tahun depan yang disusul dengan pemilihan Presiden dari beberapa calon yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju di 2014 nanti. Tak bisa kita pungkiri, akan banyak pihak yang memanfaatkan Popularitas Jokowi, dan akan banyak pula pihak yang akan melakukan berbagai cara untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014 nanti.

Baru-baru ini telah diadakan survey oleh LSI yang memasangkan Jokowi sebagai wakil dari Aburizal Bakri (ARB) dan memperoleh hasil perolehan tingkat elektabilitas tertinggi sebesar 36 %. Survey ini sangat aneh dan tidak salah kalau kita "menduga" survey ini sarat dengan kepentingan, karena kita masih ingat betul bagaimana lembaga survey ini (LSI) berusaha 'menipu' publik dengan hasil survey kisaran 50% untuk pasangan Foke & Nara beberapa waktu yang lalu pada saat pilkada Jakarta 2012. Ini adalah bukti yang sangat kasat mata kepentingan salah satu parpol dalam usahanya untuk menaikkan popularitas calonnya dengan memanfaatkan jasa LSI untuk kembali "menipu" publik.

Tidak kalah seru bagi mereka para penguasa yang ingin menjegal Jokowi untuk maju di pilpres 2014 nanti. Sekarangpun sudah bisa kita dengarkan statemen-statemen mereka untuk menghalangi Jokowi maju di pilpres mendatang. diantara statement  mereka adalah :

Planing A :
1. Selesaikan dulu masalah Jakarta
2. Tuntaskan masa jabatan sampai 2017
3. Tuduhan kutu loncat
4. Dukungan untuk 2019
 
Mereka menutup mata atas kondisi Bangsa yang sangat membutuhkan Jokowi untuk menyelamatkan Negri ini,  padahal Jakarta sudah banyak perubahan di tangan Jokowi.

Planing B :
Upayakan posisi Jokowi hanya sebagai wapres, pasangkan dg Megawati. Dg begitu akan lebih mudah untuk menjatuhkan mereka dalam pertarungan politik 2014 nanti, dimana kita tau, lawan politik menganggap Megawati memiliki banyak dosa-dosa politik di era kepemimpinannya. mulai dari penjualan gas kpd china, kasus sipadan & ligitan, penjualan saham TELKOM, Tanker, undang-undang buruh dll. Disamping itu Jokowi dianggap hanya akan menjadi “Pengekor” dari megawati yang tidak bisa menetapkan kebijakan, akan membuat rakyat tidak simpatik dan akan terjadi perpecahan dari pendukung kedua pasangan. Sehingga lawan-lawan politik Jokowi akan memperoleh kesempatan besar untuk menang dalam pertarungan politik 2014 nanti dengan mengadu domba antara pendukung Jokowi dengan pendukung Megawati.

Kenapa Jokowi harus maju di PILPRES 2014 ?
Kita tahu benar bahwa Jokowi masih 5 bulan memimpin Jakarta, dan masih terlalu dini untuk menilai tingkat keberhasilannya dalam menata & memimpin Jakarta. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa Kinerja Jokowi yang tidak kenal lelah dan tidak mengenal batasan jam kerja, membuat rakyat semakin yakin bahwa masalah jakarta akan segera dapat dirasakan perubahannya. Walaupun kita tau, untuk menyelesaikan masalah Jakarta dibutuhkan waktu puluhan tahun (jangka panjang), tapi arah dah hasil perubahan itu sudah sangat bisa kita rasakan. Mulai dari perombakan birokrasi dengan mengeliminasi orang-orang yang sering melakukan "permainan" dengan memanfaatkan kekuasaan, seperti Dinas PU, kepala rusun marunda, Kepala Satpol PP, dan juga fokus penuh dalam mengatasi masalah macet dan banjir, seperti penambahan ratusan bus gandeng trans jakarta, peremajaan kopaja dan metro mini, juga diikuti dengan pengentasan masalah banjir secara bertahap,  mulai dari normalisasi & pengerukan sungai-sungai di Jakarta seperti Sungai Paking Penjaringan, Sungai Ciliwung, Sunter dan lain-lainnya. Normalisasi itu bisa dikerjakan dengan hasil yang fantastis ditangan Jokowi, mengingat selama puluhan tahun relokasi lahan yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, tapi itu semua bisa dilakukan TANPA KONFLIK di bawah kepemimpinan Jokowi, setelah Jokowi berhasil membersihkan Rusun marunda dari tangan para calo yang memperjual belikan rusun dengan harga yang mahal. Dengan berbagai hasil yang telah bisa kita lihat dalam 5 bulan ini, setidaknya kita bisa memprediksi perubahan yang lebih besar akan segera kita rasakan tahun depan.

Pemetaan masalah, Proyek jangka Pendek, Menengah dan Panjang

2014 nanti, seluruh program pembangunan baik jangka pendek, menengah dan panjang pastilah telah di eksekusi oleh Jokowi yang mana disana pasti juga telah ditetapkan nilai kontrak dan waktu pengerjaannya. Pekerjaan terberat bagi seorang Jokowi untuk menata Jakarta adalah di tahun pertama dalam kepemimpinannya, karena tahun ini Jokowi harus benar-benar mampu memetakan segala permasalahan jakarta dan segera menyusun rencana pembangunannya yang berorientasi penuh dalam pengentasan masalah Jakarta. 

Sudah menjadi rahasia umum buruknya sistem birokrasi yang sangat kronis tingkat akut sedanga melanda Negri ini. Banyak sekali dan bahkan hampir semua jajaran dari dinas pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) terkuasai oleh mafia-mafia pemangku kepentingan yang telah menjadikan kekayaan Bangsa ini amburadul entah kemana. Dari ribuan trilliun hasil pajak dan hasil alam telah mengucur tanpa arah dan managemen yang jelas. Tidak adanya transparansi anggaran semakin membuat rakyat jengah dengan pemerintah. Kita sadar ada Ribuan trilliun kerugian negara setiap tahunnya, sementara kita masih diharuskan untuk membayar Hutang yang ribuan trilliun dan dengan bunga yang bertrilliun-trilliun itu. apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi sampai 2019 ? .
..
Tentu jawabannya adalah TIDAK ..! 

Kita ingin kekayaan negri ini tersalur sesuai dengan peruntukannya, termanage sesuai dengan managemen yang pasti dan terkucur sesuai menurut arah dan alokasi yang jelas. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki track record yang benar-benar terbukti keberhasilannya dalam hal management dan kontrollin dengan penerapan systen yang dia bawa, dan disini Jokowi telah membuktikannya di solo selama 7 tahun dan sekarang di perjelas dengan bukti penerapan system kontrollingnya di Jakarta. Dengan Pemimpin yang seperti ini, harapan rakyat sangat besar bahwa Jokowi sangat mampu mengelola dan mengalokasikan anggaran benar-benar sesuai peruntukannya.

Jokowi gila kekuasaan ?

Statemen ini akan mereka gunakan untuk menghantam Jokowi saat Jokowi benar-benar maju di bursa Capres 2014. Merakapun akan mengungkit kepemimpinan di Solo yang belum tuntas, dan kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan di Jakarta yang baru 2 tahun yang kemudian ditinggalkan untuk pencapresan 2014.
Rakyat bisa memaklumi pernyataan-pernyataan negatif yang mereka lontarkan untuk menyerang Jokowi, tapi rakyat juga tidak menutup mata pada kinerja Jokowi selama 1 tahun ini. Dimana kinerja Jokowi selama 1 tahun jauh lebih bisa mereka rasakan daripada puluhan tahun kinerja pemimpin sebelumnya. Benarkah ??  Lihat disini >>

Dan nanti sepertinya yang terjadi adalah Rakyat yang akan MENCALONKAN Jokowi untuk maju di Pilpres 2014. Dan tidak ada alasan lagi yang dapat membenarkan bahwa Jokowi gila kekuasaan, karena pencalonannya nanti adalah karena desakan rakyat.

Selesaikan dulu masalah Jakarta

Statemen seperti ini terdengar sangat konyol, …karena program pengentasan masalah di jakarta itu terbagi dalam tiga kelompok : Pembangunan Jangka pendek, menengah & Panjang.
Kita tahu masalah Jakarta sangat komplek dan merupakan timbunan dari masalah-masalah yang tidak terselesaikan selama puluhan tahun dan dari kepemimpinan sebelumnya tidak mampu memberi arah yang jelas tentang hasil kinerjanya dalam pengentasan masalah di DKI. Sementara sekarang telah bisa kita lihat dan rasakan proses perubahan yang begitu nyata memberi kejelasan arah dari pengentasan masalah-masalah Jakarta.  Baca disini >>
















Meninggalkan Jakarta, Mengkhianati Rakyat, mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Statemen ini sangat mungkin akan kembali mereka gunakan untuk menjatuhkan Jokowi.

 Apakah Jokowi meninggalkan Jakarta & Mengkhianati Rakyat ?
 
Tentu tidak, Justru karena Jokowi ingin benar-benar menjalankan amanah warga DKI khususnya, Jokowi harus secepatnya jadi Presiden, untuk membersihkan birokrasi pusat yang menghambat terselesaikannya masalah-masalah Jakarta karena tumpang tindih kewenangan Pusat dan DKI khususnya dan seluruh  Daerah pada umumnya dengan beban amanah yang lebih besar. Sekaligus melindungi Bangsa Indonesia dari serbuan pasar bebas yang akan segera diberlakukan. Jokowi akan mampu membendung mereka dengan system Ekonomi kerakyatan sesuai dengan keberhasilannya menurut rekam jejaknya di Solo dan Jakarta.

Mengkhianati Sumpah Jabatan ?

Mari kita belajar kedewasaan berpolitik kepada warga Solo yang telah merelakan Pemimpin terbaiknya mengemban amanah yang lebih besar di daerah lain (Jakarta) demi kemaslahatan yang lebih besar pula. Karena Jokowi adalah pemimpin yang membangun system, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan figur dalam kepemimpinannya. Dengan system yang telah dibangun di jakarta, maka dengan sendirinya system itu yang akan berjalan untuk menyelesaikan masalah. sementara penerusnya hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya system.

Lawan-lawan politik, tentu akan mengeluarkan statemen-statemen negatif untuk menjatuhkan Jokowi, diantaranya adalah :

Bagaimana dengan Jakarta saat ditinggalkan Jokowi ??

Justru dengan terpilihnya Jokowi sebagai Presiden nanti, masalah-masalah di Jakarta akan jauh lebih cepat teratasi. Karena Jokowi akan merombak total dan membersihkan birokrasi dari segala macam kepentingan. dan Jokowi sangat menguasai masalah yang dihadapi Ibukota Negara. Kita pasti tau masalah-masalah di Jakarta tak lepas dari peran pusat yang selama ini menetapkan kebijakan yang tumpang tindih antara kewenangan pusat dan daerah. Inilah yang membuat pengentasan masalah Jakarta selama ini berjalan ditempat, dan saat inipun Jokowi dihadapkan oleh kewenangan pusat, sehingga tidak bisa secepatnya mengambil keputusan, seperti MRT dan Monorail yang harus melalui prosedur dari pusat.

Apakah Ahok mampu menggantikan Jokowi ?

Tahun pertama kepemimpinan Jokowi adalah masa-masa paling sulit dan paling berat. Karena Jokowi harus memetakan segala masalah, menentukan langkah penanganan dan keputusan pengesahan berbagai proyek sesuai dengan program Jakarta Barunya. Tahun 2013 inilah pekerjaan besar itu dihadapkan dengan tantangan yang sangat besar, karena harus merombak birokrasi dan menanamkan pondasi yang kokoh akan program-program Jakarta baru. 

Saat semua program telah diketok palu dan di syahkan berdasarkan pemetaan masalah yang langsung menuju inti persoalan, maka Pondasi itu telah terbangun dengan kokoh. System dan birokrasi telah terbangun dengan baik dan tidak ada alasan bagi ahok untuk tidak mampu meneruskan kepemimpinan Jokowi, karena pekerjaan terberat sudah diselesaikan Jokowi. Ahok hanya tinggal mengawal dan mengawasi jalannya program-program pembangunan sesuai dengan MoU yang telah ditetapkan target waktunya. Disamping itu kita sadar akan kemampuan ahok yang aksi dan gebrakannya tak kalah lincah dengan gubernurnya (Jokowi).

Bagaimana nanti Ahok menghadapi DPRD ?

Kita tau pilkada kemarin, Jokowi – Ahok berhadapan dengan Foke-Nara yang didukung oleh partai-partai besar dengan jumlah kursi lebih dari 77%  di DPRD DKI. Mereka sempat ‘mencoba’ untuk menghambat pemerintahan Jokowi-Ahok saat rapat pengesahan APBD yang sangat jelas hanya diulur-ulur dengan berbagai alasan, sampai beberapa anggota fraksi melakukan walk out dari rapat pembahasan anggaran. Apa yang dilakukan Ahok ??  … Ahok pun tidak tinggal diam dan mengancam akan menyiarkan rapat pembahasan anggaran di DPRD secara di stasiun televisi secara LIVE, agar rakyat bisa memantau langsung kondisi rapat. Pernyataan ini dilakukan Ahok secara terbuka hingga membuat DPRD DKI meradang yang akhirnya, pengesahan APBD DKI di ketok palu TANPA VOTING.. !! kenapa ? karena rapat pengesahan itu dilalukan secara terbuka ..!

Bagaimana jika nanti Ahok menggantikan Jokowi dan bagaimana seandainya nanti Ahok mengangkat wagub dari lawan politik ?

System pemerintahan Jakarta Baru tidaklah sama dengan system pemerintahan sebelumnya. Dimana sekarang semuanya dilakukan secara terbuka. Mulai dari rapat pembahasan, hingga ke APBD yang dipublikasikan secara terbuka hingga LEMBAR KETIGA ..!!
Sesuai dengan filosofi yang dipegang oleh Ahok, bahwa kalau pemimpinnya lurus, maka bawahan tidak akan berani untuk tidak lurus. Dan kita pasti sangat yakin, siapapun nanti pengganti posisi wagub, tidak akan berani berbuat macam-macam, karena sekarang adalah era keterbukaan. Dimana rakyat memiliki porsi penuh untuk mengawal dan mengawasi birokrasi.

Dukungan kepada Jokowi untuk CAPRES 2019

Cara ini adalah cara pamungkas bagi lawan politik untuk menjegal Jokowi maju di pilpres 2014 nanti. Dengan statemen ini, mereka akan berusaha mempengaruhi & memecah belah para pendukung Jakarta Baru yang kemarin solid dalam dukungan pilkada DKI. Mereka sangat takut kalau Jokowi secepatnya menjadi Presiden. 

Apa agenda mereka dengan statemen dukungan Jokowi untuk 2019 ?

1.   Mereka berusaha mengulur waktu agar supaya Jokowi tidak sesegera mungkin menjadi presiden. Dengan begitu mereka akan leluasa mendapatkan pundi-pundi rupiah dan menikmati kekuasaan mereka di birokrasi. Sementara kita tahu tujuan mereka duduk dibirokrasi tak lain hanyalah sebagai ajang untuk mencari nafkah dan jauh dari pengabdian kepada masyarakat.

2.    Mereka akan berkesempatan penuh selama 5 tahun untuk menyiapkan strategi untuk menjatuhkan karakter Jokowi sampai 2019. Dan nanti mereka akan mengangkat isu yang sama, yakni “Selesaikan masa jabatan gubernur periode ke-2 sampai selesai (2017 – 2022), sampai seterusnya untuk menghalangi Jokowi agar jangan sampai berkesempatan untuk memimpin Negeri ini.

Apa untungnya Jika Jokowi menjadi Presiden 2014 nanti ?

Indonesia adalah negara besar dengan Jumlah penduduk 240 Juta jiwa. Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 5 di dunia. Tahun 2015 adalah dimulainya era pasar bebas dimana Indonesia akan menjadi pasar potensial dengan membanjirnya produk-produk import yang akan menggerus produk lokal bangsa kita. selama ini tidak ada upaya pemerintah untuk melindungi dan memberdayakan industri lokal, sehingga kita hanya menjadi negara konsumen tanpa mampu menjadi negara produsen. Bukan hanya dibidang elektronikan dan mesin, bangsa ini selalu import karena tidak adanya dukungan penuh dari pemerintah untuk mandiri dan berdaya dibidang produksi, tapi juga produk-produk pertanian yang ternyata selama ini kita selalu import. Kita sangat merindukan pemimpin yang berjiwa mandiri. Pemimpin yang berpegang teguh dengan amanat TRISAKTI Bung Karno yang menekankan kedaulatan dibidang Politik, kemandirian dibidang ekonomi, sosial dan budaya. Sementara kita tahu, dalam politik saja DPR tak henti-hentinya ‘melancong’ ke luar negeri hanya untuk melakukan study dalam perumusan undang-undang. Dibidang pangan, malah semakin parah dengan peristiwa kedelai, sapi dan bawang yg masih kita rasakan. Belum lagi dibidang energi yang dikuasai asing, budaya lokal yang semakin tergerus budaya asing dan Jiwa sosial masyarakat yang telah mati suri.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu mendobrak & memperbaiki system yang salah kaprah ini. Rakyat rindu dengan pemimpin yang dekat dengan rakyat dan menempatkan jabatan sebagai bentuk pengabdian. Dan sebagian besar rakyat telah menetapkan Jokowi adalah sosok yang tepat. 

Disini Jokowi telah memberikan nuansa kepemimpinan yang berbeda. Disolo Jokowi telah mensuport secara penuh PT. KAI untuk memproduksi Rail Bus ‘Bathara Krishna’, Mobil ESEMKA rakitan lokal sebagai Brand dalam negeri, melestarikan budaya lokal dengan kearifannya, hingga duniapun menetapkan Solo sebagai kota Budaya Internasional. Tidak hanya itu, Jokowi dengan tegas menyatakan APBD DKI sangat besar dan cukup untuk membangun Jakarta, sementara calon-calon lain (sebelum pilkada) menyatakan ‘seberapapun APBD DKI tidak akan pernah cukup untuk mengatasi masalah jakarta”. Disampin itu Jokowi dengan tegas tidak mau diatur-atur oleh Bank Dunia, dan tidak mengharapkan pinjaman asing yang sarat intervensi.

Lima bulan sudah Jokowi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Seringkali program-program pembangunannya terganjal oleh kewenangan dan birokrasi pusat yang berbelit dan lambat.  Kenapa ? kerena Pusat tidak menguasai masalah ibukota. Ditambah dengan birokrasi yang buruk, mengakibatkan program-program kerja Jokowi molor dan terhambat. 

Inilah alasannya kenapa Jokowi harus secepatnya menjadi Presiden. karena perombakan & reformasi birokrasi harus dilakukan oleh pemimpin yang benar-benar memiliki rekam jejak yang jelas tentang bagaimana kepemimpinannya mengelola & menata birokrasi, dan Jokowi telah membuktikannya di solo dan Jakarta sekarang yang telah membangun system birokrasi yang mampu menekan dan membatasi gerak / celah kemungkinan adanya korupsi dengan menerapkan system online disemua bidang. Mulai dari perpajakan, perijinan, tiket dan lain-lain. Bukan hanya DKI yang ingin adanya reformasi birokrasi, tapi seluruh propinsi di Indonesia sangat membutuhkan pemimpin seperti Jokowi. Karena tidak mungkin mengkloning Jokowi untuk di tempatkan di 33 propinsi, maka tidak ada jawaban lain selain mengangkat Jokowi menjadi Presiden 2014 nanti.

Salam Indonesia Baru .. !

*Silahkan di Share*
Perpu_