Wednesday, 24 April 2013

Jokowi ibarat Mikrolet


Tahun 2013 adalah adalah tahun yang panas untuk kondisi perpolitikan Indonesia yang sedang menghadapi pemilu 2014. berbagai intrik politik dengan segala macam jebakannya sudah mulai bergulir deras untuk sekedar meraih popularitas ataupun menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Sebut saja masalah Jakarta Monorel yang mendesak Jokowi untuk menandatangani surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM). memangnya Jokowi Dirut BUMD ? hehe ...
Mungkin mereka lupa kalau Jokowi adalah seorang Gubernur ... 

Tidak hanya itu, trik memanfaatkan popularitas Jokowi pun santer dilakukan oleh mereka-mereka yang ingin mendongkrak elektabilitasnya. Mulai dari Aburizal Bakri yang tiba-tiba menyandingkan Jokowi sebagai cawapresnya dalam riset Survey di Lembaga Survey Indonesia (LSI), sampai pada Hatta Rajasa maupun Farhat Abbas yang menebar isu hanya untuk nebeng tenar. 

Tapi khusus untuk masalah Farhat Abbas ini beda konteksnya, 'beliau' menggunakan cara berbeda meniru kasus lama waktu pilkada DKI kemarin, dimana ketika itu, siapa saja yang membuat pernyataan miring tentang Jokowi akan mendadak tenar, karena jutaan pendukung Jokowi pasti akan langsung bereaksi keras untuk membela Jokowi. Kondisi seperti ini yang dimanfaatkan Farhat Abbas dalam upaya untuk mendongkrak popularitasnya. 

Lewat media Twitter, Farhat Abbas yang memiliki ID ini tak henti-hentinya mencari sensasi dengan menebar pernyataan-pernyataan negatif tentang Jokowi. Dengan statemen negatif ini, 'beliau' terbukti mampu meningkatkan popularitasnya, karena banyaknya reportase media yang mengunggah statemen-statemennya yang bersinggungan dengan orang paling tenar di negeri ini (Jokowi).

Ya, .... 
Saat ini Jokowi ibarat mikrolet yang mau tidak mau terpaksa harus mengangkut para bakul sayur untuk berdagang di pasar kaget. tapi dalam hal ini yang mereka (bakul) bawa untuk diperdagangkan adalah bendera politik yang akan menjadi sumber penghidupan mereka dalam memperoleh sesuap nasi dalam pasar politik 2014 nanti.

Semua itu wajar mengingat sekarang adalah tahun yang panas karena menjelang pemilu 2014. orang akan menghalalkan segala cara hanya untuk sesuap nasi. Mereka akan berjualan apa saja, baik itu harga diri, kehormatan, maupun agama. Tujuannya hanya satu : mendapat simpati masyarakat dan memperoleh posisi jabatan untuk mendapat sesuap nasi di kursi legislatif tahun depan.

Ketika Jokowi memberi contoh bahwa dunia politik adalah dunia pengabdian, mereka justru menunjukkan cara dan paradigma lama bahwa politik adalah ajang untuk mencari sesuap nasi  ... 

*NB : Bakul = pedagang / makelar
Perpu_