Saturday, 27 July 2013

Ketika Jokowi Menebar Terror

Pak Mun hanya menganga lebar ketika mendengar penjelasan dari salah seorang staff-nya. Staff tersebut terlihat pucat pasi sewaktu menjelaskan. Ia menceritakan bahwa pagi ini kantor Lurah mereka kedatangan “tamu istimewa.”

“Iya Pak Lurah betul…tadi pagi pak Gubernur datang. Katanya sidak rutin,” ujar Faisal.

Pak Mun angkat bicara. “Lho…yang bener, kok enggak ngomong-ngomong. Mosok seenaknya aja ga bikin appointment? Terus tadi gimana?”

“Tadi beliau mesem banget…dia marah katanya ini loket tulisan buka kok gak ada yang jaga…terus…terus…dia nanya-nanya berkas IMB…lah saya bingung jawabnya gimana,” tutur Faisal.

Pak Mun lalu nyelongsor lemas ke kursi kerjanya. Ini sama sekali diluar perkiraannya. “Kenapa sih Gubernur baru itu kepo main dateng sembarangan ke kantornya. Kan gw udah ada appointmen ke acara PKK. Ehm…istri ane sih maksudnya…yah tapi yang penting gue uda cap jari dulu…yang penting ada bukti absen donk.”

Pak Mun tidak sendirian. Sudah ada beberapa kantor camat dan lurah yang disidak mendadak. Kebanyakan bernasib sama ketika didatangi kantornya. Ada yang bahkan pintu-pintunya masih terkunci sama sekali. Ada yang pegawainya hilang entah kemana. Ya…ini suatu rutinitas normal sebenarnya ketika Gubernur sebelumnya berkuasa.

Di masa lalu,hidup sebagai Camat dan Lurah aman sentosa. Mencari obyekan diluar dan bolos kantor itu hal yang biasa. Kalau cuma dengan gaji sekian…mana bisa kaya? Gubernur saat itu aja pengertian kok. Kira-kira itu yang ada di pikiran Pak Mun.

Enaknya kepemimpinan birokrat masa lalu adalah sistem autopilotnya. Urusan Gubernur yah Gubernur. Urusan Walikota yah Walikota. Urusan Lurah yah Lurah. Masing masing saling memahami dan saling mengerti dengan tidak lebay menyebrangi wewenang masing-masing dan mencari kesalahan orang lain. Kesalahan bukanlah kesalahan bila tidak disebut salah bukan?

MEMANG KENAPA KALO LOKET BELOM ADA ORANG!!!?

Toh Masyarakat sudah biasa dengan pelayanan yang ada selama ini. Rakyat sudah pasrah dan tidak bisa ngapa-ngapain juga kok kalau kita persulit. Dengan lamanya proses pembuatan KTP, masyarakat dapat berkesempatan meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri dengan cara memberi ekstra. Ini bukan korupsi loh. Ini Cuma masalah supply demand. Masyarakat ingin instan dan kami sebagai pelayan masyarakat memberi kesempatan. Duh…Pak Mun pun tenggelam dalam rindu membayangkan sistem birokrasi Gubernur masa lalu.

Sosok Pemimpin ideal di mata lurah Pak Mun (Courtesy to The Legend of Koizumi,http://onewdesign.files.wordpress.com/2011/01/the-legend-of-koizumi-23-adolf-hitler.png?w=768)
Sosok Pemimpin ideal di mata lurah "Pak Mun"
(Courtesy to The Legend of Koizumi)
Namun semenjak Gubernur baru ini berkuasa. Kinerja birokrasi Pemda DKI dipenuhi dengan terror. Yang biasanya nakal sekarang bingung karena pemimpinnya bersih tidak bisa diajak kompromi. Tidak ada lagi comfort zone untuk para birokrat. Apalagi sekarang dengan adanya Wagub baru yang selalu jaga kandang di Balaikota. Dari intel yang ia dapat dari koleganya di Balaikota, Pak Mun mendengar bahwa sudah ada beberapa rekannya yang nakal di Balaikota sedang dipantau berat dan terancam dipecat.

Pak Mun masih bingung mendalami pola pikir DKI 1 dan DKI 2 yang baru ini. Apa untungnya sih jadi orang lurus? Yang ada malah bikin banyak musuh. Sudahlah yang penting ibadah dan mengenyam pendidikan agama itu lebih dari cukup. Beberapa tahun lalu ketika Pak Mun masih jadi wakil camat, Seniornya yang merupakan camat pernah memberi wejangan berupa quote Inggris: You can’t survive in politic by being both religious and incorruptible. If you need to choose…better choose being religious. Hingga hari ini Pak Mun masih tidak habis pikir bagaimana Gubernur dan Wagub yang baru ini menang tanpa menggunakan filosofi diatas.

Teringat pula akan ceramah mubaligh yang beberapa bulan lalu sempat dicekal isu SARA saat Pilkada berlangsung. Pak Mun ada disana ketika ceramah itu disampaikan. “Ingat…bila Jakarta dipimpin orang kafir maka azab akan menimpa kota ini,” tutur Mubaligh tersebut.

Sekarang Pak Mun mengerti. Azab itu kini telah nyata. Inilah akibat kemenangan Gubernur pecinta musik setan metal dan Wakilnya yang Cina Kafir. Siapapun yang tidak mampu mengikuti pola kerja Gubernur yang lurus jalannya ini akan diazab posisinya. Semua birokrat korup dan malas akan hidup dalam teror bahwa pria ceking ndeso tersebut dapat sewaktu-waktu muncul di depan pintu kantornya seperti hantu. Dan terror itu bernama Joko Widodo…

Berikut ini adalah link Youtube Jokowi sewaktu sidak = http://www.youtube.com/watch?v=gGG9Kx8e4hA